Lazada

Jadikan Cincin di Jarimu Bernilai Ibadah

thumbnail
Syarat Agar Amalan Bernilai Ibadah
Setelah kita mengucapkan dua kalimat syahadat, itu artinya ada tanggung jawab dan konsekuensi besar yang harus kita jalani, intinya adalah menjadikan seluruh aktifitas kita tulus dan murni dikerjakan ikhlas hanya karena Allah Subhanahu wata'ala, demikian pula harus sesuai dengan petunjuk Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam. Dua poin inilah yaitu "Ikhlas karena Allah" dan "Sesuai Sunnah Nabi-Nya" yang akan menjadikan amal perbuatan kita bernilai ibadah disisi Allah.

{الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا} [الملك: 2]
“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2)

Allah Subhanahu wata’ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohu 'alaihi wasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.

Cincin Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam
Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memakai cincin, di antaranya:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ
Dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memakai cincin perak di tangan kanannya. Pada cincin itu terdapat mata cincin dari Habasyah. Beliau menjadikan mata cincin itu berada di arah telapak tangan. (H.R. Muslim)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَتَّمُ بِيَمِينِهِ
Dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu anhu bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam memakai cincin pada tangan kanannya. (H.R. anNasaai, dishahihkan al-Albany)

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memakai cincin pada jari kelingking.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذِهِ وَأَشَارَ إِلَى الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى
Dari Anas –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Cincin Nabi shollallahu alaihi wasallam dipakai di sini, Anas mengisyaratkan pada jari kelingking di tangan kiri. (H.R. Muslim)

Musyrik karena Cincin
Jika ada yang berkeyakinan bahwa batu mulia yang diikat dengan cincin atau benda-benda mistik lainnya dapat memberikan manfaat berupa kesehatan dan kekayaan atau diyakini dapat menolak bala maka sungguh dia telah terjatuh kedalam kesyirikan, karena keyakinan yang benar bahwa menghilangkan madharat dan mendatangkan manfaat adalah kekhususan bagi Allah, sebagaimana firman-Nya :
{قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ} [الزمر: 38]
“Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan Rahmat-Nya? Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah bertawakal orang-orang yang berserah diri’ “. (Az-Zumar:38)

Sunnah Memakai Cincin..???
Dalam satu riwayat dijelaskan,
أن النبي صلى الله عليه وسلم أراد أن كتب إلى كسرى وقيصر والنجاشي فقيل له : إنهم لا يقبلون كتابا إلا بخاتم فصاغ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما حلقته فضة ونقش فيه محمد رسول الله فكأني أنظر إلى بياضه في كفه
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menulis surat ke Kisra (persi), Kaisar (romawi), dan Najasyi (Ethiopia). Kemudian ada yang mengatakan, ’Mereka tidak mau menerima surat, kecuali jika ada stempelnya.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat cincin dari perak, dan diukir tulisan Muhammad Rasulullah. Saya melihat putihnya cincin itu di tangan beliau. (HR. Ahmad 12738, Bukhari 5872, Muslim 2092, dan yang lainnya).

Imam Ibnu Utsaimin berkata :
التختم ليس بسنة مطلوبة بحيث يطلب من كل إنسان أن يتختم، ولكن إذا احتاج إليه...
Memakai cincin bukanlah sunah yang ditekankan. Dalam arti, dianjurkan bagi setiap orang untuk memakai cincin. Akan tetapi sunah jika dia membutuhkan...
فمن كان محتاجاً إلى ذلك كالأمير والقاضي ونحوهما كان اتخاذه اتباعاً لرسوله الله صلى الله عليه وسلم، ومن لم يكن محتاجاً إلى ذلك لم يكن لبسه في حقه سنة بل هو من الشيء المباح...
Oleh karena itu, siapa yang membutuhkan cincin, seperti pemerintah, hakim atau yang lainnya, maka menggunakan cincin dalam hal ini termasuk mengikuti sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun siapa yang tidak membutuhkan cincin, maka memakai cincin bagi dirinya bukan termasuk sunah, hanya sebatas memiliki hukum mubah...

Cincin yang Terlarang
Cincin emas tidak boleh dipakai laki-laki, hukumnya haram berdasarkan hadits-hadits dari Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, diantaranya :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau melarang dari cincin emas (bagi laki-laki, pent). (H.R al-Bukhari dan Muslim)
حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ
Diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari kalangan umatku dan dihalalkan bagi kaum wanita mereka. (H.R. Abu Dawud, anNasaai, atTirmidzi, Ibnu Majah. Lafadz sesuai riwayat atTirmidzi, dishahihkan al-Albaniy)

Diantara larangan Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam adalah memakai cincin di jari tengah dan jari telunjuk,
عَنْ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ قَالَ عَلِيٌّ نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا
Dari Abu Burdah beliau berkata: Ali (bin Abi Tholib) berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarangku memakai cincin di jari ini dan ini. (Abu Burdah) berkata: Ali memberi isyarat pada jari tengah dan jari setelahnya (telunjuk, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain). (H.R. Muslim)

Sebagian ulama mengharamkan memakai cincin besi berdasarkan hadits :
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَن َّالنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى عَلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَأَلْقَاهُ وَاتّخَذَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ فَقَالَ : هَذَا شَرٌّ هَذَا حِلْيَةُ أَهْلِ النَّارِ فَأَلْقَاهُ فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرَقٍ فَسَكَتَ عَنْهُ
Dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam melihat pada sebagian Sahabatnya cincin dari emas. Beliau berpaling darinya (menunjukkan kebencian, pent) kemudian Sahabat itu melempar cincin (emas) tersebut. Dan mengambil cincin dari besi kemudian berkata: Ini lebih buruk. Ini adalah perhiasan penduduk anNaar. Kemudian Sahabat itu melemparkan cincin dari besi itu. Kemudian ia memakai cincin dari perak. Nabi diam. (H.R Ahmad dan al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh al-Albaniy dalam Aadabuz Zifaaf. Dinyatakan bahwa jalur riwayat itu sanadnya hasan dan ada jalur penguat yang lemah dari riwayat Ibnu Umar. Syaikh al-Albaniy juga menshahihkannya dalam Shahihul Jami’).

Demikian, semoga catatan kecil ini bisa mendatangkan kebaikan yang besar.

______________________________________________________________

Sumber Inspirasi :

Buletin Al Fikrah || Hukum Gambar dan Patung

thumbnail
Buletin Al Fikrah || Hukum Gambar dan PatungIslam datang menyeru manusia untuk menyembah Allah semata, dan meninggalkan penyembahan kepada selain Allah, baik itu kepada wali atau orang-orang shaleh lainnya. Dalam bentuk patung, gambar, kuburan atau lainnya yang merupakan fenomena fisik penyebab timbulnya kesyirikan. Dakwah semacam ini telah ada sejak lama, yakni sejak Allah mengutus para rasul untuk memberi petunjuk kepada manusia.

Masalah penyembahan patung-patung ini telah disebutkan kisahnya dalam surat Nuh. Dalil dan bukti yang paling kuat bahwa patung-patung itu merupakan personifikasi dari orang-orang shaleh, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas tentang firman Allah shubhaana wa ta’ala yang artinya :

"Dan mereka berkata: "Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan janganlah pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr." (QS. Nuh: 23-24)

Ibnu Abbas berkata: "Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr adalah nama-nama orang shaleh pada zaman Nabi Nuh. Ketika mereka telah meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaumnya agar di majelis yang biasa mereka duduk dibangun patung-patung peringatan dan dinamakan dengan nama-mana mereka. Lalu mereka melakukan hal itu. Pada pertama kalinya, mereka tak menyembah patung-patung tersebut. Sampai setelah generasi mereka meninggal semua (generasi pembikin patung-patung) dan ilmu telah dilupakan, maka mulai saat itulah patung-patung tersebut disembah."

Kisah di atas menunjukkan bahwa penyebab utama timbulnya syirik adalah patung-patung dan gambar-gambar yang dipersonifikasikan dengan para pemimpin dan orang-orang yang mereka muliakan. Banyak orang menyangka, patung-patung dan gambar-gambar itu hukumnya halal. Mereka beralasan, sebab patung-patung dan gambar-gambar tersebut tidak lagi disembah pada zaman modern ini, sehingga di sebagian rumah ummat Islam, kita saksikan patung-patung, bahkan sebagiannya merupakan sesembahan orang-orang kafir, patung-patung itu dijajar yang menurut dalih mereka sebagai koleksi barang antik atau hiasan.

Hadits-hadits Tentang Haramnya Gambar dan Patung :

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

" إن أشد الناس عذابا عند الله يوم القيامة المصورون " رواه البخاري
"Sesungguhnya orang yang paling sakit dan keras siksanya pada hari kiamat nanti adalah para perupa (tukang gambar)." (HR. Bukhari)

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
"Allah berfirman:
(ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي فليخلقوا حبة و ليخلقوا ذرة...) " رواه البخاري
"Siapakah orang yang lebih zhalim daripada orang yang menciptakan (sesuatu) seperti ciptaan Ku, maka hendaknya mereka menciptakan sebutir biji atau sebutir jagung …" (HR. Bukhari)

Hadits marfu’ dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
" كل مصور في النار، يجعل له بكل صورة صورها نفسا فتعذب في جهنم "
"Setiap perupa ada di neraka, diciptakan untuknya setiap gambar yang ia bikin sebuah nyawa, sehingga ia diazab di Jahannam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Zaid bin Sahal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
«لاَ تَدْخُلُ المَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ»
"Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar." (HR. Bukhari)

Dari Abu Sa’id, Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata :
اسْتَأْذَنَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «ادْخُلْ» فَقَالَ: كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ، فَإِمَّا أَنْ تُقْطَعَ رُءُوسُهَا، أَوْ تُجْعَلَ بِسَاطًا يُوطَأُ فَإِنَّا مَعْشَرَ الْمَلَائِكَةِ لَا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ
‘Jibril minta ijin kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata: ‘Masuklah.’ kata jibril: ‘Bagaimana saya akan masuk sedangkan dalam rumah anda ada tirai bergambar-gambar? Maka ]ika anda potong kepala-kepalanya, atau anda jadikan sebagai hamparan yang dipijak (saya akan masuk). Karena sesungguhnya kami -para malaikat- tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar.’ (HR. Abdur Razaq, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan dia mengatakan: Hasan Shahih, dan Ibnu Hibban menshahihkannya)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits tentang masalah ini.

Hadits-hadits ini adalah dalil yang nyata tentang haramnya membuat gambar sesuatu yang bernyawa dan termasuk dosa besar yang diancam dengan neraka bagi pelakunya. Hadits ini juga menunjukkan keumuman segala jenis gambar, baik itu di dinding, tirai, kemeja, kaca, kertas dan sebagainya, karena Rasulullah shallallahu alalhi wa sallam tidak membedakannya, balk itu yang berbayangan (berjasad/tiga dimensi) atau tidak. Rasulullah shallallahu alalhi wa sallam bahkan melaknat pembuatnya dan mengabarkan bahwa mereka termasuk yang paling keras disiksa di hari klamat, dan semuanya di neraka.

Yang menguatkan keumuman ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah bahwasanya, suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tiba dari safar lalu beliau melihat tirai yang terdapat padanya gambar-gambar di tempat Aisyah, maka bellau merobeknya. Wajahnya merah padam serta bersabda:
«أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ»
"Sesungguhnya manusia yang paling keras disiksa di hari Kiamat adalah mereka yang meniru ciptaan Allah" dalam riwayat lain -sabda beliau ketika mellhat bergambar itu-:
"إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَيُقَالُ لَهُمْ: أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ"
"Sesungguhnya pemilik (pembuat) gambar-gambar ini akan disiksa hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka, ‘hidupkanlah apa yang telah kalian buat!"' (HR. Bukhari)

Maka ini adalah perkataan yang jelas tentang umumnya ancaman bagi pembuat gambar di tirai atau lainnya.

Perkataan Ulama tentang haramnya gambar

Al-Hafidz mengatakan: "Kata AI-Khaththabi: ‘Dan gambar yang menghalangi masuknya (malaikat) ke dalam rumah adalah gambar yang padanya terpenuhi hal-hal yang haram, yakni gambar-gambar yang bernyawa yang tidak terpotong kepalanya atau tidak dihinakan. Dan bahwasanya dosa tukang gambar itu besar karena gambar-gambar itu ada yang diibadahi di samping Allah, selain gambar itu mudah menimbulkan fitnah bagi yang memandangnya."

Imam An-Nawawl mengatakan (dalam Syarah Muslim): "Shahabat-shahabat kami dan para ulama selain mereka mengatakan bahwa haramnya membuat gambar hewan adalah sekeras-keras pengharaman. Ini termasuk dosa besar karena ancamannya juga amat besar, sama saja apakah dibuat untuk dihinakan atau tidak. Bahkan membuatnya jelas sekali haram karena meniru ciptaan Allah. Sama saja apakah itu dilukis pada pakaian, permadani, mata uang, dinding atau lainnya. Adapun menggambar pepohonan dan sesuatu yang tidak bernyawa, tidak diharamkan. Inilah hakikat hukum menggambar. Sedangkan gambar hewan (yang bernyawa), jika digantung (ditempel) di dinding, sorban, dan apa-apa yang tidak termasuk tindakan menghinakannya, maka jelas itu haram. Sebaliknya bila dibentangkan dan dipijak sebagai alas kaki atau sebagai sandaran dan sebagainya, maka tidaklah haram (sampai ia katakan) dan tidak ada bedanya dalam hal ini apakah berjasad (mempunyai bayangan/tiga dimensi) atau tidak.

Sebagian salaf ada yang mengatakan bahwa pelarangan itu Jika ia (gambar) mempunyai bayangan, sedangkan selain itu tidak apa-apa. lni adalah madzab yang bathil, sebab sesungguhnya tirai yang diingkari Nabi Muhammad Shallallahu alalhi wa sallam itu ada gambarnya (yang tidak diragukan lagi bahwa itu tercela), dan gambar di tirai itu bukanlah gambar yang mempunyai bayangan (tiga dimensi).

Berkata Syaikh bin Baz : "Bagi yang memperhatikan hadits-hadits tersebut akan (melihat) jelas keumuman haramnya gambar (dan membuatnya) tanpa kecuali."

Bentuk-bentuk Gambar dan Patung Yang Dibolehkan:

a. Dibolehkan membuat patung dan gambar berbentuk pohon, bintang, matahari, bulan, gunung, batu, laut, sungai, pemandangan indah dan tempat-tempat suci seperti Ka’bah, kota Madinah, Masjidil Aqsha dan masjid-masjid lain. Semua itu dengan catatan, tidak disertai dengan gambar manusia, binatang atau lainnya yang memiliki nyawa. Dalilnya adalah perkataan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:
" إن كنت لا بد فاعلا فاصنع الشجر وما لا نفس له "
"Jika engkau harus mengerjakan-nya (menggambar) maka buatlah pohon dan semua yang tidak memiliki nyawa." (HR. Bukhari)

b. Potret-potret yang ditempelkan di dalam KTP, paspor, SIM dan sebagainya, karena hal-hal tersebut merupakan hal yang diharuskan dan terpaksa. Jadi, dibolehkannya karena kepentingan dan keterpaksaan.

c. Memotret para penjahat, misalnya pembunuh, pencuri dan lainnya untuk memudahkan pelacakan dan penangkapan, sehingga selanjutnya bisa dilakukan qishash atasnya, demikian pula kebutuhan pemotretan dalam ilmu kedokteran atau disiplin ilmu lainnya.

d. Dibolehkan bagi anak-anak kecil perempuan bermain boneka, dengan memberinya pakaian, membersihkan dan menidurkannya. Hal itu agar ia bisa belajar bagaimana kelak ketika ia harus menjadi seorang ibu. Dalil dari dibolehkannya hal tersebut adalah perkataan Ummul Mukminin Aisyah:
«كنت ألعب بالبنات عند النبي صلى الله عليه وسلم»
"Aku dulu pernah bermain dengan boneka (anak-anakan) perempuan di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam." (HR. Bukhari)

Kesimpulan

Jika masih ada yang membolehkan gambar atau patung, hendaknya ia mendatangkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulillah shallallahu alalhi wa sallam yang shahih. Jadi, telah jelas bahwa menggambar kepala dan yang lainnya dari sesuatu yang bernyawa termasuk dalam perkara yang diharamkan dan terlarang, dan tidak pantas seseorang membuat pengkhususan dari keumuman yang ditunjukkan oleh dalil-dalil itu kecuall bila Allah memberi pengecualian. Dalam hadits-hadits itu tampak jelas tidak ada perbedaan apakah yang diharamkan itu gambar berjasad atau bukan, dilukis di atas kertas atau di tirai dan sebagainya. Bahkan tidak pula ada perbedaan apakah itu gambar tokoh, ulama atau pembesar. Haramnya pembuatan dan pemasangan gambar tokoh-tokoh ini termasuk yang paling keras, karena fitnah yang ditimbulkannya lebih besar. Pemasangannya di majelis-majelis dan sebagainya serta penghormatan (pengagungannya), termasuk sebesar-besar jalan yang membawa kepada syirik pengibadahan kepada pemilik gambar itu, sebagaimana yang telah terjadi pada ummat Nabi Nuh alalhis salam.

Di zaman jahiliyyah gambar-gambar itu sangat banyak, bahkan sampal diagungkan dan diibadahi di samping Allah sehingga Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu alalhi wa sallam. Beliau pun kemudian memecahkan berhala-berhala itu dan menghapus gambar-gambar. Dengan cara demikian Allah melenyapkan syirik dan jalan-jalannya. Oleh sebab itu, semua yang membuat gambar dan pemajangnya atau menghormatinya (mengaggungkannya) berarti la telah menyerupakan diri dengan orang-orang kafir yang juga berbuat demikian. Dia Juga telah membuka kembali pintu syirik dan membentangkan jalan-jalannya. (Buletin Al Fikrah)

Maraji’

______________________________________________

Sumber : http://wahdah.or.id/hukum-gambar-dan-patung/ Posted by admin wahdah.or.id Date: Februari 16, 2006

Tarbiyah Diniyah || At Tafsir Al Muyassar

thumbnail
Kitab At Tafsir Al MuyassarSetiap kali mendengar muqoddimah pembuka suatu ceramah, khotbah atau pidato yang berkaitan dengan Agama Islam, pasti dan pasti selalu ada ajakan untuk bersholawat kepada Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam, yang dihiasi dengan kata-kata indah bahwa beliau adalah suri tauladan, figur yang hendaknya dicontoh dan diikuti sunnahnya. Semua audiens yang mendengar dan menyaksikan hal tersebut serta merta, bersegera untuk bersholawat kepada Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam, namun tidak jarang diantara kita hanya bangga menjadi pengikut Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam "hanya" di lisan saja. Sementara tingkah laku, akhlak dan kesehariannya jauh dari tuntunan Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, bukankah Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ} [الأحزاب: 21]
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu [Al Ahzab (33):21]

Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam Sang Teladan bagi setiap muslim, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani].

Di zaman sekarang ini, dimanakah akhlak yang mulia tersebut berada..???

A’isyah radhiallahu ‘anha berkata:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]

Akhlak beliau shollallahu 'alaihi wasallam, ternyata masih ada, masih mudah untuk kita jumpai, bahkan masih sangat mudah untuk kita baca dan lafadzkan, namun sekali lagi jangan hanya sekedar kata-kata, karena itu tercela.

{كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ} [الصف: 3]
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. [Ash-Shof (61):3]

Hendaknya apa yang telah kita ketahui dari akhlak Beliau Shollallahu 'alaihi wasallam yang mulia, kita meminta kepada Allah Ta'ala agar diberikan kemudahan untuk mengamalkannya agar bernilai ibadah disisi-Nya, sebab surga dan segala kenikmatan di dalamnya adalah balasan dari apa yang telah kita amalkan.

{جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الواقعة: 24]
Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. [Al Waqi'ah (56):24]

Saya pribadi tidaklah sebaik para pembaca, saya masih berusaha untuk mengkaji dan menggali kemuliaan akhlak Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam [baca: Al-Qur'an] melalui kajian kitab "At Tafsir Al Muyassar", setiap malam ahad, antara magrib dan isya, yang pertama kali diadakan di Masjid Agung Al Umaraini Benteng Kepulauan Selayar, namun karena pemateri[1] sering berhalangan akhirnya dipindahkan di Masjid Ridho Ilahi Jln. Jend. Ahmad Yani Jalur Dua, pada hari dan jam yang sama. Walhamdulillah sudah selesai juz pertama[2], semoga diberi kemudahan untuk menyelesaikan juz-juz berikutnya.

Kitab At Tafsir al Muyassar ini adalah sebuah tafsir terbitan dari Mujamma’ al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif -Lembaga yang berkedudukan di Madinah al-Munawwarah- yang telah mencetak jutaan Mushhaf al-Qur`an beserta terjemahnya ke dalam berbagai bahasa dunia untuk disebarkan ke seluruh dunia. Kitab Tafsir ini disusun oleh kumpulan Pakar Tafsir di bawah bimbingan Syaikh Sholih bin Abdul ‘Aziz Aalu Asy Syaikh. Terkhusus Kitab at-Tafsir al-Muyassar ini, sudah banyak pujian dan sanjungan terhadap buku ini, baik dari kalangan thullab ‘ilm (penuntut ilmu syar’i) maupun dari kalangan para ahli tafsir.

Download : Kitab At Tafsir al Muyassar

Semoga Allah Subhanahu wata'ala memberikan berkah pada ilmu yang kita dapatkan serta kekuatan untuk mengamalkannya.

,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.” [HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419].
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlak, amal dan hawa nafsu yang mungkar” [HR. Tirmidzi no. 3591, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Dzilalul Jannah: 13].

____________________________________

[1] Wahyudi M, Lc - Alumni Universitas Afrika Internasional - Khartoum - Sudan
[2] Malam Ahad Pertanggal 8 Nopember 2014

Faidah :

Belajar dari Musuh

thumbnail
Proses Pelarangan Khamar [Minuman Keras]
Foto : Mari Belajar Agama Islam
“Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an di hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan ummat Muhammad dari pada seribu meriam, oleh karena itu, tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks” (pernyataan ini dinisbatkan kepada William Ewart Gladstone, 1809-1898, mantan Perdana Menteri Inggris.)

Apakah betul pernyataan diatas disebutkan oleh mantan Perdana Menteri Inggris..??? Bukan benar tidaknya penisbatan tersebut yang akan dibahas tapi hakekat isi kandungan kata-katanya.

Katanya : "Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger Al-Qur’an."

Apakah ini berarti mereka berhenti memerangi Kaum Muslimin..???, ternyata tidak, mereka hanya merubah strategi bukan hanya sekedar perang fisik tapi juga dibarengi dengan perang pemikiran istilah arabnya Al-Ghozwulfikry (الغزو الفكري).

Diantara tujuan dari perang pemikiran tersebut adalah agar supaya para pemuda Islam jauh dari Al-Qur'an.

Katanya : "Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an di hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka."

Menurut mereka, kemenangan hanya dapat diperoleh dan kekuasaan akan dapat diraih jika Al-Qur'an tidak lagi bertengger di dada pemuda-pemuda Islam dan tercabut dari hati-hati mereka.

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ} [فصلت: 26]
Dan orang-orang yang kafir berkata: Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). [Fushilat (41):26]

Wahai pemuda-pemuda Islam masih adakah Al-Qur'an bertengger di dadamu, masih adakah Al-Qur'an tertatanam dalam hatimu..???

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا} [الفرقان: 30]
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan". [Al-Furqoon (25):30]

Sepantasnya bagi kita khususnya para pemuda untuk memberikan perhatian besar terhadap Al-Qur'an jangan sekali-kali menelantarkannya, sebagaimana keadaan mereka yang diadu-kan oleh Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam dalam ayat diatas.

Diantara bentuk menelantarkan Al-Qur'an yang disebutkan Al Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya adalah :
  • Bersenda gurau dan terus bercakap-cakap ketika Al-Qur'an dibaca sehingga tidak terdengar bacaannya;
  • Tidak mempelajari dan tidak menghafalnya;
  • Tidak beriman dan tidak membenarkannya;
  • Tidak mentadabburi dan tidak memahaminya;
  • Tidak mengamalkannya dalam bentuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya;
  • Berpaling darinya, lebih memilih sya'ir, perkataan, nyanyian, senda gurau, opini atau tarekat yang tidak diambil dari Al-Qur'an
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wata'ala yang Maha Mulia, Maha Pemberi lagi Maha Kuasa atas apa saja yang dikehendaki-Nya, agar membebaskan kita dari segala hal yang mendatangkan murka-Nya, dan menggerakkan kita agar melakukan apa saja yang diridhoi-Nya, berupa menghafal Kitab-Nya dan memahaminya serta melaksanakan seluruh konsekuensi hukum yang terdapat didalamnya sepanjang malam dan siang, dengan cara-cara yang benar dan tepat yang dicintai dan diridhoi-Nya, sesungguhnya DIA Maha Mulia lagi Maha Pemberi

Katanya : "Minuman keras dan musik lebih menghancurkan ummat Muhammad dari pada seribu meriam"

Percaya atau tidak!, fakta telah berbicara, betapa banyak kaum muslimin meninggal sia-sia hanya karena menenggak minuman haram ini, dan hanya karena keributan yang terjadi di tengah-tengah konser pertunjukan musik.

Seribu meriam hanya menghancurkan fisik saja, namun minuman keras dan musik bisa menghancurkan fisik, agama serta dunia dan akhirat seorang Muslim.

Sungguh, Sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam yang diucapkannya kurang lebih 1.400 tahun yang silam hampir-hampir menjadi kenyataan di akhir zaman ini, dimana banyak orang yang menganggap remeh haramnya minuman keras dan musik, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعازِفَ
“Kelak akan ada sekelompok kaum dari umatku yang akan menghalalkan zina, kain sutra (bagi lelaki), khamar, dan alat-alat musik.” (HR. Al-Bukhari no. 5590)

Katanya : "tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks”

Pernyataan ini mengingatkan kita akan Firman Allah Subhanahu wata'ala :
{قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ} [التوبة: 24]
Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. [At-Taubah (9):24]

Juga sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam :
يُوْشِكُ اْلأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، لَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ! مَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهيَةُ الْمَوْتِ
“Hampir-hampir umat-umat (di luar kalian) mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang makan mengerumuni piring hidangannya.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah disebabkan karena jumlah kita sedikit pada saat itu?” Rasulullah menjawab: “Bahkan kalian pada hari itu jumlahnya banyak, akan tetapi kalian hanyalah seperti buih yang dibawa air bah (banjir) dan sungguh Allah akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa segan (takut) terhadap kalian. Dan Allah akan melemparkan pada hati kalian Al-Wahn.” Seseorang bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di Ash-Shahihah no. 958)

Kekalahan demi kekalahan bukan karena kuantitas yang kurang tapi karena “Cinta dunia dan takut mati", lebih cinta terhadap materi.

Demikian pula seks yang erat kaitannya dengan wanita merupakan fitnah terbesar bagi kaum lelaki bukan saja bagi Kaum Muslimin bahkan telah tercatat dalam sejarah bahwa fitnah pertama yang menghancurkan Bani Israil adalah fitnah wanita, sebagaimana sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam :
إِنَّ الدُّنْيا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْها فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ. فَاتَّقُوا الدنيا وَاتَّقوا النِّساءَ, فَإنَّ أَوَّلَ فِتْنَة بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّساءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian penguasa di atasnya lalu Dia memperhatikan apa yang kalian perbuat. Karenanya takutlah kalian kepada (fitnah) dunia dan takutlah kalian dari (fitnah) wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama (yang menghancurkan) Bani Israil adalah dalam masalah wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Wah, ternyata cukup panjang juga jika ingin dijelaskan satu-satu, sebagai penutup mari kita senantiasa berdo'a dan berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

_______

Faidah :

Jujurlah Sejujur-jujurnya, Jangan Pernah Bohongi Dirimu..!!!

thumbnail
Jujurlah Sejujur-jujurnya, Jangan Pernah Bohongi Dirimu..!!!
Jujur saja, apa sich itu jujur..???
Coba tengok KBBI, disebutkan didalamnya bahwa jujur itu lurus hati; tidak berbohong (misal: dengan berkata apa adanya).

Sementara itu, Jujur dalam bahasa Al Qur'an dan Hadits biasa kita dengarkan dengan istilah Ash-Shidq (الصدق) kalau di Google Terjemahan jujur itu bahasa Arabnya : Shoodiq (صادق), tapi ternyata ketika membuka terjemah Al Qur'an dan memperhatikan dengan seksama kata-kata Ash-Shidq (الصدق) atau shoodiq (صادق), ternyata didapati terjemahannya kebanyakan bahkan mungkin semuanya bermakna "benar", tentu hal ini tidaklah menunjukkan kontradiksi karena jujur itu adalah benar, sesuai dengan kenyataan, lawan katanya adalah bohong atau dusta.

Jujur saja, pernahkah kita membohongi diri sendiri..???
Kalau bohong kepada orang lain sich, mudah mengetahuinya. Tengok saja hatimu! atau biarkan waktu yang akan membongkar kebohonganmu, tapi kalau membohongi diri sendiri itu gimana yach..???

Konon katanya ada seorang penegak hukum, hakim atau jaksa saya kurang tahu. Saking jujurnya dia tidak ingin membohongi dirinya sendiri sekalipun, dia senantiasa mengajarkan putra-putrinya untuk senantiasa jujur dan mengajak siapapun membiasakan diri untuk jujur. Bagaimana bentuk jujur yang dia maksud..??? ternyata baginya, apapun yang sudah diniatkan dan mampu untuk dilaksanakan harus segera dilakukan, jika tidak, itu sama saja dengan membohongi diri sendiri. Misalnya, ketika seseorang berniat untuk pagi-pagi berangkat ke kantor, maka setelah selesai sarapan hendaknya dia langsung menuju ke kantor sesuai dengan niatnya. Apabila di tengah perjalanan, belum sampai di kantor, ternyata ada sesuatu yang ketinggalan, harus tetap melanjutkan perjalanan ke kantor sesuai dengan niatnya dari awal, nanti setelah tiba di kantor, dan dirasa perlu serta ada waktu dan kesempatan untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan di rumah tadi, barulah kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan tersebut.

Kesimpulannya, jujur itu adalah kesesuaian antara hati perkataan dan perbuatan, antara hati, perkataan dan perbuatan saling membenarkan tidak bertentangan apalagi saling mendustakan. Intinya jujur itu adalah benarnya perkataan serta konsisten.

Siapa diantara kita yang biasa mencatat..??? catatan itu selevel dengan perkataan, sebagaimana tulisan orang bisu dihukumi sama seperti perkataan orang normal. Perhatikan catatan-catatan dan tulisan-tulisan kita..!!! apakah sudah sesuai dengan perbuatan atau tidak..??? jangan sampai kita termasuk orang-orang yang tidak jujur terhadap diri sendiri.

Biasanya orang yang mau pergi belanja, terlebih dahulu mencatat di sehelai kertas apa saja yang akan dibelinya, apa yang tertuang di sehelai kertas tersebut merupakan hasil olah hati dan pikirannya. Sekarang mari kita merenung sejenak..!!, mampukah kita konsisten dengan apa yang kita tulis..??? minimal menjadikan apa saja yang terdapat dalam daftar belanja tersebut sebagai skala prioritas yang didahulukan sebelum membeli barang lain meskipun menarik hati kita, mampukah..???

Ketika catatan belanja tersebut diamanahkan ke orang lain, namun ternyata setiba di rumah, kita dapati apa yang dibelinya tidaklah sesuai dengan catatan yang diberikan, bahkan ada yang di dalam catatan tidak terbeli. Kira-kira bagaimana perasaan anda..??? jengkel..??? marah..??? tapi pernahkah anda marah dan jengkel terhadap diri sendiri ketika anda sendiri yang belanja dan tidak sesuai dengan daftar belanja yang anda tulis sendiri..??? atau pernahkah kita menyesal, karena belanja tidak sesuai dengan daftar belanja yang ditulis sendiri..???

Kalau perasaan bersalah, menyesal, jengkel dan marah pada diri sendiri tidak pernah ada, lantas kenapa kita mampu marah, jengkel dan menyesal sudah menyuruh orang lain belanja namun tidak jujur, kurang amanah karena belanja tidak sesuai dengan catatan yang ada.

Seperti itulah kira-kira, sifat kebanyakan kita, marah dan jengkel ketika dibohongi tapi ketika membohongi diri sendiri seakan-akan tidak ada yang salah, semuanya biasa-biasa saja. Padahal telah membohongi diri sendiri dalam keadaan tidak sadar karena berbeda antara hati, perkataan dan perbuatan, tidak konsisten.

Bagi yang sering menyalahi niat, tujuannya yang utama beralih ke sesuatu yang tidak diniatkan sebelumnya, ingatlah pepatah bijak yang penuh hikmah bahwa : "Apabila Anda memiliki tujuan tertentu, janganlah menoleh ke segala godaan lainnya"

Sesuaikan antara hati, perkataan dan perbuatan itulah kejujuran haqiqi. Jujur dituntut dalam segala hal, terlebih Berlaku Jujur dalam Keimanan.

Dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits yang tsabit dari ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ الصِّدْقَ بِرٌّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ فُجُورٌ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا
"Sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia di tulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta." (HR. Bukhari dan Muslim)

Siapapun kita, pasti ingin berteman Bersama Orang-Orang yang Jujur,

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu berkata:
“Kedustaan itu tidak pantas digunakan untuk suatu keseriusan, dan tidak pula dalam senda gurauan.
Jika engkau mau, bacalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُوْنُوا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (At-Taubah: 119)
Kemudian beliau katakan:
“Apakah dalam ayat ini engkau dapati adanya satu keringanan bagi seorang pun (untuk berdusta, pent.)?”

Jujur adalah akhlak terpuji yang selalu dicari, mari mulai dari diri sendiri lalu mencari mereka-mereka yang punya sifat jujur ini, agar bahagia di dunia dan di akhirat nanti.

Jagalah Lisan dari Ucapan yang tidak Pantas || Jadwal Khatib Jum'at Masjid Ridho Ilahi

thumbnail
Bua-Bua Timur Jl. Ahmad Yani No.5
Katanya : "Diam itu Emas",
Katanya : "Orang yang tinggi ilmunya itu diam makin merunduk kayak padi tidak berkicau merasa paling benar".

Kata-kata diatas, tentu ada benarnya. Namun bukan berarti semua orang harus diam, terlebih jika diminta untuk memberikan nasehat, wejangan, pengarahan, motivasi apalagi ketika diminta jadi khotib. Tapi yang harus diperhatikan adalah katakan apa yang di-yaqini kebenarannya, bukan yang dirasa atau disangka benar.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah dalam kitabnya Al Iman Hal. 44 berkata :
وفي الصحيحين عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: " من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو لِيَصْمُت ". فأمر المؤمن بأحد أمرين: إما قول الخير أو الصُّمَات؛ ولهذا كان قول الخير خيراً من السكوت عنه، والسكوت عن الشر خيراً من قوله؛
dan di dalam dua kitab shohih (Bukhori dan Muslim), dari Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda : "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata benar atau diam". Maka (didalam hadits ini) seorang mu'min diperintahkan salah satu dari dua perkara : Berbicara benar atau diam. Oleh karena itu menyampaikan kebenaran tentu lebih baik dibandingkan dengan diam dari kebenaran tersebut, dan (seperti itu pula) diam dari keburukan tentu lebih baik dibandingkan dengan membicarakannya.

Selain memperhatikan isi materi yang akan disampaikan berupa sesuatu yang telah diyaqini kebenarannya, hal lain yang harus diperhatikan adalah siapkan mental untuk menerima respon dari para pendengar, istilah agamanya harus ber-sabar, karena terkadang ada orang yang diperingati atau dinasehati, disampaikan kepadanya kebenaran berupa ayat-ayat Al-Qur'an, namun dia tertawa "seakan-akan tidak suka" bahkan berani mengatakan Al-Qur'an itu hanya kertas buatan manusia"

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ} [العصر: 3]
dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. [Al Ashr (103):3]

Berkata Penulis Kitab Zad Al Masiir fie Ilmit Tafsiir berkaitan dengan tafsir surah Al Ashr ayat ketiga diatas :
وَتَواصَوْا بِالْحَقِّ أي: بالتوحيد، والقرآن، واتباع الرسول وَتَواصَوْا بِالصَّبْرِ على طاعة الله، والقيام بشريعته.
"dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran" yaitu (kebenaran berupa) tauhid, Al Qur'an dan mengikuti Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam. "dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran" yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata'ala dan dalam menegakkan syari'at-Nya.

Sejak diberikan kesempatan dan amanah berdiri dihadapan jama'ah sholat jum'at sebagai khotib, terkadang jadwal yang ada di satu masjid bertepatan dengan jadwal di masjid lainnya. Sementara mayoritas panitia pengurus masjid telah memberikan catatan bahwa "Apabila berhalangan Tolong carikan pengganti". Jika melihat kuantitas khotib tentu mudah untuk mencari pengganti, namun jika yang dilihat adalah kualitasnya maka disini agak kesulitan, karena kebanyakannya pasti sudah punya jadwal juga. Biasanya ada juga yang sebenarnya punya kemampuan untuk berkhotbah namun masih memiliki banyak kekhawatiran, sehingga melontarkan berbagai macam alasan untuk menolak ditunjuk sebagai pengganti.

Contoh nyata, jadwal khotib di Masjid Al Ikhwan Tabang tabrakan dengan jadwal khotib di Masjid Ridho Ilahi Bua-Bua Timur Jl. Ahmad Yani No.5 pada jum'at tanggal 14 Februari 2014.

Untuk bulan maret tepatnya Jum'at tanggal 28 Maret 2014 jadwal di Masjid Ridho Ilahi, semoga tidak ada halangan sehingga bisa di-isi sendiri.

Semoga jadwal khotbah jum'at yang tabrakan nantinya bisa di-isi oleh ustadz atau ikhwah lainnya, sebagai salah satu andil dalam dakwah menyampaikan TAUHID, AL QUR'AN & ITTIBA'.

Antara Diam dan Berbicara masing-masing punya sisi positif yang bisa mengantarkan kepada kebaikan,

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا} [النساء: 114]
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [Annisa (4):114]

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Rodhiallohu 'anhu, Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
" مَنْ صَمَتَ نَجَا "

"Barangsiapa DIAM maka dia SELAMAT" [HR. Ahmad]

“Pengantar Ilmu Tafsir”

thumbnail
Kajian Intensif Sabtu-Ahad “Pengantar Ilmu Tafsir” – Makassar
Empat kali ayat berikut ini terulang di dalam Al Qur'an, di dalam surah yang sama yaitu Al Qomar, dimana Allah Subhanahu wa'ta'ala berfirman :
{وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ}
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? [Al Qomar (54): 17, 22, 32 & 40]

Ini merupakan motivasi dan dorongan agar kita senantiasa membaca dan mempelajari Al Qur'an.

Orang-orang yang pro perayaan maulid Nabi, mengutip beberapa ayat untuk melegalkan acaranya tersebut, diantaranya potongan ayat dalam Surah Yunus ayat 20, dimana Allah Subhanahu wa'ta'ala berfirman :
{فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا} [يونس: 58]
Hendaklah dengan itu mereka bergembira. [Yunus (10): 58]


Bentuk kegembiraannya adalah dengan merayakan maulid Nabi.
Pertanyaannya : Adakah kitab tafsir yang menjelaskan bahwa Nabi atau para Sahabat-nya yang ayat Al Qur'an diturunkan di zamannya, mengamalkan ayat ini, dengan merayakan maulid Nabi sebagai bentuk kegembiraan..???

Contoh kedua, adalah potongan Ayat yang terdapat dalam Surah Huud ayat 120, dimana Allah Subhanahu wa'ta'ala berfirman :
{وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ} [هود: 120]
Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; [Huud (11): 120]


Berdalih dengan potongan ayat diatas untuk melegalkan maulid juga menimbulkan banyak pertanyaan, diataranya :
  • Betulkah ketika maulid, diceritakan semua kisah dari Rasul-Rasul..?? atau Hanya Rasul Shollallahu 'alaihi wasallam saja..?!?!? bukankah ayat diatas menyebutkan "semua kisah dari rasul-rasul"..!?!?!?
  • Kenapa tidak rayakan sekalian maulid semua rasul..!!?!?! Natal misalnya, bukankah ini maulid kelahiran Yesus [versi Non Muslim], Nabi Isa Alaihissalam..?!?!?
  • Adakah kitab tafsir yang menjelaskan bahwa Nabi atau para Sahabat-nya yang ayat Al Qur'an diturunkan di zamannya, mengamalkan ayat ini, dengan merayakan maulid Nabi yang didalamnya diisi acara menceritakan kisah Rasul..???
Berkaitan dengan maulid Nabi sebagian orang tidak ikut merayakannya, kenapa..??? Diantara argumen mereka bisa ditemukan di link berikut ini :

Al Imam Al Bukhari dalam kitab shohihnya membuat sebuah bab "Al Ilmu Qobla Al Qaul wal Amal" Ilmu dulu sebelum berbicara dan berbuat, tentu sebagai peringatan bagi kita agar memiliki ilmu tentang perkataan ataupun perbuatan sebelum kita mengatakan atau melakukannya, namun kebanyakan orang, pokoknya berbuat saja dulu nanti baru kita cari-cari dalih pembenaran atas apa yang diucapkan dan dilakukan tersebut.

Apalagi berbicara tentang Al Qur'an, mengutip ayat-ayat-nya sebagai pembenaran atas pendapat dan perbuatan tertentu, tentu sedikit banyaknya membutuhkan ILMU TAFSIR, sekedar info, bagi yang punya waktu dan kesempatan :

Bismillah,
Insya Allah, dengan mengharap ridha Allah Ta’ala,
Hadirilah …

Kajian Intensif Sabtu-Ahad
PENGANTAR ILMU TAFSIR
(Syarah Kitab Manzhumah Az-Zamzamy Karya Syaikh Abdul Aziz Az-Zamzamy -rahimahullah-)

Oleh Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi
(Pengasuh Mahad As-Sunnah Makassar)

Selama 7 Sesi WITA
Sabtu, 16 Rabiul Awal 1435 / 18 Januari 2014

  • Pukul 09.30-12.00
  • Pukul 16.00-18.00
  • Pukul 18.30-21.00
Ahad, 17 Rabiul Awal / 19 Januari
  • Pukul 05.30-08.00
  • Pukul 10.00-12.00
  • Pukul 16.00-18.00
  • Pukul 18.30-21.00
Di Masjid As-Sunnah
Jl. Baji Rupa No. 8 Makassar

Disiarkan Langsung di:

  • www.dzulqarnain.net dan www.an-nashihah.com
  • Winamp URL: http://radio.an-nashihah.com:7020/
  • BB/Android melalui aplikasi Erdioo: Radio An-Nashihah Makassar
Info:
0853 9909 0004
0852 4292 0351

Terbuka untuk Umum, Muslim dan Muslimah

Kajian Intensif Sabtu-Ahad “Pengantar Ilmu Tafsir” – Makassar


Semoga kesempatan ini tidak disia-siakan bagi yang diberikan kemudahan, karena betapa banyak orang yang ingin belajar namun ada saja hal-hal yang menghalanginya, diantaranya, cuaca buruk yang terjadi sebagaimana peringatan dari BMKG bahwa Tinggi Gelombang Laut Berkisar Antara 2.0 S/d 4.0 Meter Di Selat Makassar Bagian selatan, selat Makassar Bagian tengah, perairan Barat Sul-sel, perairan Kepulauan Salabana, perairan Kepulauan selayar Dan Laut Flores. Hal ini mengakibatkan tertundanya penyeberangan Fery ASDP dari dan ke Pamatata Selayar - Bira Bulukumba dalam beberapa hari ini.

Al-Qur'an di Dadaku [Cita-cita]

thumbnail
Cara cepat menghafal Al Qur'an"Menghafal Al-Qur'an" sejak diturunkannya sampai sekarang merupakan sesuatu yang kedengarannya mudah, banyak yang telah menghafalkannya, mulai dari 1 ayat sampai 30 juz. Biografi para ulama semisal Imam Syafi'i, menceritakan bahwa beliau mempunyai kemampuan menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun. Demikian juga Imam Ahmad, Beliau hafal Al-Qur’an pada masa kanak-kanak. Seperti itulah keadaan para Ulama Rahimahumullah.

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :

{بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ} [العنكبوت: 49]
Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. [Al Ankabut (29):49]

Pada saat sekarang ini-pun tidak jarang orang-orang pilihan yang diberikan karunia bisa menghafal Al-Qur'an, sebagai contoh : Hidayat yang dipanggil Ukasyah, berasal dari Bonto Dato', Kayuadi Kepulauan Selayar, yang sekarang nyantri di Ponpes Ibnu Abbas Bulukumba, dalam jangka waktu 5 bulan sudah menghafalkan 5 juz, berarti setiap bulan 1 juz, semoga Allah senantiasa menjaganya dan memberikan taufiq serta inayah-Nya agar bisa menyelesaikan hafalan Al Qur'an 30 Juz.

Ini sangat penting, mengingat di Kabupaten Kepulauan Selayar, hampir-hampir tidak didapatkan seorang-pun Hafidz-Penghafal Al Qur'an.

Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi, telah membuat metode atau Cara Termudah Menghafal Al-Qur`an Al-Karim, beliau menerangkan :

Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran. Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
  1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
  2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
  3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
  4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
  5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
  6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
  7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
  8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
  9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
  10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
  11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya.

Dalam metodenya itu juga dijelaskan tentang beberapa hal sebagai berikut :
  • JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA?
  • BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
  • BAGAIMANA CARA MURAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS?
  • APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?
  • BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?, serta
  • BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN
Ketika Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya, Bagaimana cara menghafal Al-Qur’an dengan baik agar hafalan tersebut tidak mudah hilang?
beliau menjawab: “Tidak ada cara terbaik untuk menghafal Al-Qur’an kecuali dengan dua hal:
Pertama: Banyak membaca Al-Qur’an dan mengulang-ulangnya baik di dalam ataupun di luar shalat.
Kedua: Mengamalkan Al-Qur’an, karena mengamalkannya akan mengantarkan kepada kokohnya hafalan Al-Qur’an tersebut di dalam dada dan terus mengingatkannya.


Asy-Syaikh Bin Baaz mengajari Cara Menghafal Al-Qur`an ketika ditanya mengenai metode yang bisa membantu dalam menghafal kitabullah. beliau menjawab:
  • Kami menganjurkan kamu agar mencurahkan perhatian dalam menghafal (Al-Qur`an) dan fokus terhadapnya.
  • Hendaknya kamu memilih waktu-waktu yang ‘pas’ untuk menghafal, misalnya: Akhir malam, atau setelah shalat subuh, atau di pertengahan malam, atau waktu lainnya dimana pada waktu itu kamu sedang santai agar kamu bisa menghafal dengan baik.
  • Kami juga menganjurkan kamu agar bisa memilih teman yang baik, yang bisa membantumu dalam menghafal dan muroja’ah (mengulangi hafalan).
  • Tentunya sambil senantiasa meminta taufiq dan bantuan kepada Allah. Memohon kepadanya dengan merendahkan diri, semoga Dia berkenan untuk menolongmu, memberikan taufiq kepadamu, dan selalu menjagamu dari semua hal yang bisa menghalangimu (dari menghafal Al-Qur`an). Karena siapa saja yang jujur meminta bantuan kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan bantuan kepadanya dan memudahkan semua urusannya.
Didalam Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim, karya Al-Qadhi Ibrahim bin Abil Fadhl ibnu Jamaah Al-Kinani rahimahullahu, hal. 72-73, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah disebutkan :
Seseorang hendaknya membagi waktu siang dan malamnya. Semestinya dia memanfaatkan sisa umurnya, karena sisa umur seseorang tidak ternilai harganya.
  • Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur.
  • Waktu terbaik untuk membahas/meneliti (suatu permasalahan) adalah di awal pagi.
  • Waktu terbaik untuk menulis adalah di tengah siang.
  • Waktu terbaik untuk menelaah dan mengulang (pelajaran) adalah malam hari.
Al-Khathib rahimahullahu berkata: “Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur, setelah itu pertengahan siang, kemudian waktu pagi.”
Beliau berkata lagi: “Menghafal di malam hari lebih bermanfaat daripada di siang hari, dan menghafal ketika lapar lebih bermanfaat daripada menghafal dalam keadaan kenyang.”
Beliau juga berkata: “Tempat terbaik untuk menghafal adalah di dalam kamar, dan setiap tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan.”
Beliau menyatakan pula: “Tidaklah terpuji untuk menghafal di hadapan tetumbuhan, yang menghijau, atau di sungai, atau di tengah jalan, di tempat yang gaduh, karena hal-hal itu umumnya akan menghalangi kosongnya hati.”


Semoga Allah memberikan kepada kita semua, kemudahan dalam mempelajari kitab-Nya, menghafal, mengamalkan dan mengajarkannya.

Dari Utsman radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya.” [HR. Al-Bukhari]

Baca :

Membangun Aqidah di Atas Jalan Salaf

thumbnail

Katanya "demi cintaku padamu lautan luas-pun akan kuseberangi",

Katanya "demi cintaku padamu gunung tinggi-pun akan kudaki",

Namun pada saat diundang, ditunggu-tunggu tidak datang,

Kenapa tidak datang kemarin?, katanya "hujan gerimis sayang..."


Benteng Selayar mulai diguyur hujan, mulai dari gerimis sampai hujan deras disertai angin, kilat dan petir. Belum lagi kondisi perairan antara Dermaga Pamatata Selayar dan Dermaga Bira Bulukumba yang "kadang" beriak karena tingginya ombak dan derasnya arus aliran air laut, ditambah satu lagi ketidakjelasan pemberangkatan Mobil Ferry Selayar Makassar yang "katanya" demonstrasi menuntut jadwal penyeberangan dikembalikan seperti semula, namun semoga hal-hal yang demikian itu tidak menghalangi niat-niat kita untuk bisa menghadiri secara langsung majelis ILMU, sebagaimana yang diinfokan via sms atau di web www.dzulqarnain.net yang bunyinya sebagai berikut :

Kajian Aqidah Intensif “Membangun Aqidah di Atas Jalan Salaf” – Makassar

Bismillah,Insya Allah, dengan mengharap ridha Allah Ta’ala,
hadirilah …

Kajian Aqidah Intensif
MEMBANGUN AQIDAH DI ATAS JALAN SALAF
(Uraian Aqidah Imam Abu Hatim dan Abu Zur’ah Ar-Razy -rahimahumallah-)

Pemateri:
Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi
(Pengasuh Mahad As-Sunnah Makassar)

Waktu:
Jum’at-Ahad, 9-11 Safar 1435/13-15 Desember 2013
9 Sesi WITA

Jum’at, 9 Safar 1435
  • Pukul 16.00-18.00
  • Pukul 18.30-21.00
Sabtu, 10 Safar 1435
  • Pukul 05.30-08.00
  • Pukul 10.00-12.00
  • Pukul 16.00-18.00
  • Pukul 18.30-21.00
Ahad, 11 Safar 1435
  • Pukul 05.30-08.00
  • Pukul 16.00-18.00
  • Pukul 18.30-21.00

Tempat:
Masjid As-Sunnah
Jalan Baji Rupa No. 8 Makassar

Disiarkan Langsung di:
- www.dzulqarnain.net dan www.an-nashihah.com
- Winamp URL: http://radio.an-nashihah.com:7020/
- BB/Android melalui aplikasi Erdioo: Radio An-Nashihah Makassar

Info:
0853 9909 0004 (Telepon & SMS)
0852 4292 0351 (Telepon & Whatsapp)

Terbuka untuk Umum, Muslim dan Muslimah

Mengenal Hakekat Penghambaan Diri Kepada Allah Plus Untaian Nasehat Ibnu Baththah Rahimahullah

thumbnail
untaian nasehat Ibnu Baththah Rahimahullah
Beberapa hari yang lalu terima SMS yang redaksinya :

HADIRILAH ...
''DAUROH ILMIYAH 2 HARI jeneponto'' Pd tgl 23-24 Nov 2013 M / 19-20 Muharrom 1435 H.

bersama :
1. Al ust. Abu Mu'awiyah askari (Murid As syaikh Muqbil) Judul : ''mengenal hakekat penghambaan diri kepada Allah", (kajian risalah: addurratul fakhirah, karya Allamah Abdurrahman As-Sa'di)

2. Al Ust. Abul Abbas Muhammad Al yamani (Murid Asy syaikh Muqbil) bersama Al Ust. Ibnu Yunus (Alumnus jamia'ah al ulum Pakistan)

Judul : "untaian nasehat Ibnu Baththah Rahimahullah"

Bertempat d masjid Daarussunnah Ma'had Daarussunnah Jeneponto


SMS pertama tidak lengkap sebagaimana diatas tapi banyak yang terpotong infonya, jadi minta untuk di-SMS ulang.

Alhamdulillah, senang mendengar berita seperti ini..kemudian langsung konfirmasi kepada panitia apakah acaranya Insya Allah akan dilaksanakan sesuai jadwal atau bagaimana..??? Menurutnya Insya Allah akan dilaksanakan sesuai rencana, pemateri sudah siap dan informasi telah disebar, baik melalui SMS juga melalui pamflet.

Semoga acaranya bisa berjalan sukses dalam lindungan Allah Subhanahu wata'ala.

Siap-siap safar dari Selayar menuju Jeneponto, selesai mengikuti dauroh insya Allah lanjut perjalanan ke Makassar hunting barang yang bisa dijual di Selayar.

Tetap semangat untuk terus berjalan di muka bumi dalam rangka menimba ilmu yang menghasilkan amal dan mencari rezeki yang halal sebagai bekal di dunia dan di hari kebangkitan.

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :

{هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ} [الملك: 15]
Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. [QS. Al Mulk (67):15]

Kupas Tuntas Kitab Fiqih Matan Abi Syuja'

thumbnail
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :

{وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ} [التوبة: 122]
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. [At-Taubah (9):122]

Bagi yang ingin belajar fiqih Imam Asy-Syafi’iy secara lengkap mulai dari pembahasan thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, waris, nikah, jual-beli, dan lain-lain dari pokok bahasan ilmu fiqih.

Mari, dengan Mengharap Ridha Allah Ta’âlâ, kita bersama-sama mengikuti dan menghadiri…

KAJIAN FIQIH ke-4 yang akan membahas serta mengupas tuntas Matan Abu Syujâ’ Karya Imam Abu Syujâ’ Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Ashfahâny -rahimahullâh-

Pemateri: Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi -hafizhahullâh- (Pengasuh Ma’had As-Sunnah Makassar)

Kajian ini dijadwalkan berlangsung Selama 10 Hari, dimulai Pada hari Jumat sampai dengan hari Ahad, tanggal 22 Jumadil Akhir sampai dengan tanggal 2 Rajab 1434 H yang bertepatan dengan tanggal 03 sampai dengan 12 Mei 2013 M

Setiap Hari terbagi atas empat kali pertemuan :
  1. Pkl. 06.00 WITA - 08.00 WITA
  2. Pkl. 10.00 WITA - 12.00 WITA
  3. Pkl. 16.00 WITA - 18.00 WITA
  4. Pkl. 19.00 WITA - 21.00 WITA

Acara ini akan diadakan Di Ma’had As-Sunnah Jalan Baji Rupa No. 8 Makassar (Sekitar Pertigaan Jl Cendrawasih-Jl Mappaoddang-Jl Dangko)

Tidak dipungut biaya alias Gratis, Terbuka untuk Umum bagi kaum Muslimin dan Muslimat

Bagi yang membutuhkan Info lebih lanjut silahkan menghubungi panitia :
  • Burhanuddin (0853 9909 0004)
  • Suwardi (0852 4292 0351)
Bagi kaum muslimin dan muslimat yang tidak sempat hadir, Insya Allah, tetap bisa mengikuti acara ini karena disiarkan langsung via streaming di:
Semoga acara seperti ini tidak kita lewatkan begitu saja tanpa mengambil faidah yang sebanyak-banyaknya.

Link download kitab Matan Abi Syuja' for PC

Link download kitab Matan Abi Syuja' for Smart Phone

Link Baca Kitab Matan Abi Syuja' Online

Sumber : Daurah Fiqih IV “Matan Abu Syujâ’” – Makassar

Tabligh Akbar : Al Qawa'id Al Arba'ah

thumbnail

Insya Allah, hari sabtu nanti berangkat ke Bulukumba bersama beberapa ikhwah untuk menghadiri, Tabligh Akbar, dengan tema : "4 KAIDAH DASAR DALAM MEMAHAMI ISLAM YANG BENAR"

Pemateri:Al-Ustadz Dzulqarnain M.Sunusi (dzulqarnain.net / Pengasuh Pesantren As-Sunnah – Makassar)
Hari:Ahad, 19 Jumadil Ula 1434 /31 Maret 2013
Jam:09.00 – Selesai
Tempat:Masjid Agung Kabupaten Bulukumba, Sul-Sel.

Bagi yang mau ikut, nanti kita ketemu di lokasi. Rencananya bermalam selama 2 malam di Pondok Pesantren Ibnu Abbas yang berlokasi di Borong Paoe (Kampung Baru) Desa Polewali, Kec. Gantarang, Bulukumba, sekitar 2,5 Km dari Mall Mega Zanur.

Faidah yang akan didapat dari safar ini insya Allah antara lain :
  • Malam Ahad Ba'da Magrib, ikut MAJELIS TA'LIM membahas Kitab Riyadhussholihin (Al Imam An Nawawi) bersama Ustadz Abu Irbadh di Mesjid Pesantren Ibnu Abbas,
  • Hari Ahad pagi jam 9 sampai selesai menghadiri Tabligh Akbar sebagaimana diatas,
  • Malam senin Ba'da Magrib, ikut MAJELIS TA'LIM membahas Kitab Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid (Abdurrahman Bin Hasan Alu asy Syaikh) bersama Ustadz Abu Irbadh di Mesjid Pesantren Ibnu Abbas.

So...apalagi yang menghalangi diri ini dari menuntut ilmu...?!?!?

{انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُون*لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ} [التوبة: 41، 42]
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu" Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. [Surat Attaubah (9) : 41-42]

Satu Jam Bersama Al Qur'an

thumbnail
Syaamil Al-Quran Miracle The Reference 22 In 1
AL-QUR'AN PER KATA SYAMIL MIRACLE THE REFERENCE
Siapa diantara kaum muslimin yang tidak pernah membaca dan tidak mengetahui ayat berikut :

{ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ} [البقرة: 2]
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa [Al Baqoroh (2):2]

Hampir seluruhnya pasti pernah membaca dan mengetahui makna ayat diatas, namun siapakah yang telah mengamalkannya..??? menjadikannya petunjuk..???

Bagaimana mungkin bisa mengamalkan Al Qur'an..??? bagaimana mungkin bisa menjadikannya petunjuk...??? jika tidak paham dan mengerti isinya, semoga Allah Subhanahu wata'ala memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang diberi pemahaman yang benar terhadap Al Qur'an.

{يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ} [البقرة: 269]
Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). [Al Baqoroh (2):269]

Bagaimana bisa paham dan mengerti isi dan kandungan Al Qur'an jika tidak pernah mempelajarinya, bukankah Al Qur'an itu MUDAH,

{فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا} [مريم: 97]
Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur'an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. [Maryam (19):97]

{فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ} [الدخان: 58]
Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur'an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran. [Ad Du-khon (44):58]

{وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ} [القمر: 17, 22, 32, 40]
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? [Al Qomar (54):17, 22, 32, 40]

{مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى} [طه: 2]
Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; [Tho-ha (20):2]

Walhamdulillah, Semoga Allah Subhanahu wata'ala senantiasa memberikan kemudahan bagi kita untuk senantiasa mempelajari kitab suci-Nya, dan menjadikan kita golongan orang-orang yang peduli dan perhatian terhadap Al Qur'an, bukan justru sebaliknya,

{وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا} [الفرقان: 30]
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan". [Al Furqon (25):30]

Info Jadwal Kajian Al Qur'an Rutin :
  1. Kajian Tafsir Al Qur'an, setiap malam ahad, antara magrib dan isya, di Masjid Agung Al Umaraini Benteng Kepulauan Selayar,
  2. Pelajaran Tajwid "Tahsinul Qiro'ah" dan Terjemah Tafsiriyah Perkata, setiap malam kamis dan sabtu, ba'da isya 20:30 s/d 21:30, di Masjid Al Ikhwan Bo'dia Tabang.

Bencana, Penyebab & Akibatnya Menurut Pandangan Islam

thumbnail
Antara Cuaca Ekstrim dan Angin Puting Beliung
Angin Puting Beliung
Beberapa hari yang lalu, saya terima surat dari Bupati Kepulauan Selayar, yang ditandatangani oleh Wakil Bupati Kepulauan Selayar H. Saiful Arif, perihal Himbauan Materi Khutbah. Surat tersebut ditujukan kepada seluruh Khatib Jum'at Terpadu sekota Benteng dan Sekitarnya.

Disebutkan dalam isi surat tersebut bahwa : "Dalam rangka menghadapi perubahan cuaca yang ekstrim hari-hari terakhir ini, maka untuk pelaksanaan Shalat Jum'at  pada tanggal 21 Desember 2012 kepada saudara diminta agar menyampaikan materi khutbah berdasarkan thema "BENCANA, PENYEBAB DAN AKIBATNYA MENURUT PANDANGAN AGAMA ISLAM".

Surat tersebut seharusnya diterima sesuai dengan tanggal yang tertera disudut kanan atas yaitu pada hari Kamis, 20 Desember 2012, tapi ternyata suratnya diantar di pagi hari Jum'at.

Bagiku membuat konsep khutbah untuk membahas thema diatas, dalam waktu kurang dari 3 jam termasuk sesuatu yang sulit, terlebih lagi listrik padam, otomatis harus ditulis tangan, kalaupun diketik pakai laptop, tetap tidak mungkin bisa dicetak, karena print tidak bisa nyala. Kesulitan lainnya karena harus MENURUT PANDANGAN AGAMA ISLAM, seandainya menurut pandangan saya pribadi tentu lebih mudah.

Walhasil, khutbah jum'at pada tanggal 21 Desemberr 2012 berlangsung tanpa konsep, hanya ditemani Mushaf Terjemahan diatas mimbar. Berbeda pada hari Jum'at berikutnya 28 Desember 2012, waktu untuk membuat konsep lumayan lama, sehingga khotbah jum'at disampaikan dengan ditemani selembar konsep.

Berbicara tentang bencana, dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa bencana itu adalah sesuatu yg menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan, adapun Bencana Alam maksudnya adalah bencana yg disebabkan oleh alam (seperti gempa bumi, angin kencang, dan banjir)

Apakah Bencana Alam murni disebabkan oleh alam...???

{فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ} [الأعراف: 78]
Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. [Al A'raf : 78]

Ayat diatas menggambarkan tentang Gempa Bumi yang menimpa kaum Tsamud, karena kesyirikan, kekafiran dan maksiat serta pembangkangan mereka terhadap saudara mereka Sholeh, sebagaimana diceritakan pada ayat sebelumnya :

{قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [الأعراف: 73]
(Shaleh) berkata. "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih." [Al A'raf : 73]

Allah berfirman tentang penduduk Madyan :

{فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ} [الأعراف: 91]
Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka [Al A'raf : 91]

Penyebab gempa bumi yang menimpa mereka, tidak lain karena dosa, kesyirikan, kekafiran dan maksiat serta pembangkangan mereka terhadap saudara meraka Syu'aib;

{قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [الأعراف: 85]
(Syu'aib) berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman". [Al A'raf : 85]

Percayakah kita kisah Kaum Nabi Nuh yang dibinasakan dengan bencana banjir dan angin topan;

{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ} [العنكبوت: 14]
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang lalim. [Al Ankabut : 14]

Penyebab bencana yang melanda mereka tidak lain karena pembangkangan mereka terhadap Nabi Nuh Alaihissalam yang mengajak mereka untuk men-Tauhid-kan Allah Subhanahu wata'ala;

{لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ} [الأعراف: 59]
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). [Al A'raf : 59]

Tampak jelas dari kisah umat terdahulu yang disebutkan diatas bahwa penyebab bencana yang membinasakan mereka adalah karena dosa-dosa mereka dalam bentuk : Kesyirikan, Kekufuran, serta Maksiat.

Perkara selanjutnya yang dapat menyebabkan bencana adalah hilangnya loyalitas terhadap sesama orang beriman dan hilangnya sikap berlepas diri dari orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala :

{وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ} [الأنفال: 73]
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. [Al Anfal : 73]

Perkara yang diperintahkan Allah dalam ayat diatas adalah senantiasa loyal terhadap sesama kaum muslimin dan berlepas diri dari orang-orang kafir.

Kesimpulannya, bencana yang terjadi penyebabnya berkaitan dengan dosa yang diperbuat oleh tangan-tangan manusia itu sendiri, Allah Subhanahu wata'ala berfirman :

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ} [الروم: 41]
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [Ar Rum : 41]

{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} [الشورى: 30]
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [Asy Syuro : 30]

{فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ} [العنكبوت: 40]
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. [Al Ankabut : 40]

Akibat yang ditimbulkan dari sebuah bencana yang melanda tidaklah terbatas dan terkhusus hanya ditujukan bagi para pendosa, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala :

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال: 25]
Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. [Al Anfal : 25]

Setelah mengetahui PENYEBAB & AKIBAT yang ditimbulkan oleh BENCANA, mari kita senantiasa ber-amar ma'ruf dan nahi mungkar serta senantiasa istigfar dan bertobat kepada Allah Subhanahu wata'ala, senantiasa memperbaiki diri pribadi, keluarga dan masyarakat, agar Allah Subhanahu wata'ala menjauhkan kita dari Bala dan Bencana;

{وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ} [هود: 117]
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. [Hud : 117]

Oleh karena itu, sebagai PENUTUP dari postingan kali ini, mari kita senantiasa berbuat kebaikan, jauhi kesyirikan, kekafiran, maksiat dan dosa-dosa lainnya, kalaupun ada diantara kita yang menjadi korban bencana semoga Allah memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang mati syahid, Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :

« الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ » (رواه مالك ، والبخارى ، ومسلم ، والترمذى عن أبى هريرة)
Orang-orang yang mati syahid itu ada lima :
  1. Meninggal karena wabah penyakit,
  2. Meninggal karena sakit perut atau muntaber,
  3. Meninggal karena tenggelam,
  4. Meninggal karena tertimpa reruntuhan,
  5. Meninggal karena terbunuh di medan perang
(HR. Malik, Al Bukhory, Muslim dan At Tirmidzi Rahimahumullah dari Abu Hurairah Radhiallohu 'anhu)